Anton sebenarnya menyadari bahwa Anjar adalah anak yang baik. Hanya keadaan yang kurang tepat sehingga membuatnya menjadi anak yang tak mau peduli pada sekitarnya. Anton yakin, jika ia mampu membuat Anjar menyadari kalau tidak terlalu buruk jika ia mau peduli pada anggapan orang lain. Singkatnya, takkan merugikan kehidupannya.
Di lain keadaan, Anjar bersiap-siap pergi ke tempat Anton. Seperti biasa, dengan pakaian semrawut. Anjar keluar rumah dan menunggu taxi yang sudah ia pesan daritadi di depan gerbang rumah Anron. Mukanya masih terlihat begitu kusut, tatapan mata kosong sampai-sampai ia tak sadar taxi yang ia pesan sudah ada di hadapannya.
“Ke alamat ini, Pak!” Anjar menyerahkan secarik kertas yang diberi Anton tadi pagi pada supir taxi kemudian naik ke dalamnya.
Seminggu yang lalu Anjar masih merasa dirinya singa yang hendak memakan seonggok daging, kini telah menjadi seonggok daging yang hendak dimakan singa. Memalukan sekali baginya jka orang-orang yang pernah ia remehkan mengetahui bahwa ia telah benar-benar tak berdaya sekarang, ia pun tak mau mereka semua tahu.
“Masih lama ya sampainya, Pak?” tanya Anjar oada supir taxi yang ia naiki.
“Palingan 5 menit lagi sampai, Mas.” Jawab supir taxi itu.
Waktu berjalan begitu membosankan. Sampai akhirnya Anjar sampai juga di rumah sakit tempat Anton, pamannya kerja. Ini pertama kalinya Anjar menginjakan kaki di sebuah rumah sakit padahal ia tak sakit sama sekali. Aneh sekali bagi Anjar, semua yang dialaminya sejak tinggal di rumah Anton.
Anjar terus saja mengikuti kemana kakinya melangkah. Meja resepsionis, di sana Anjar menanyakan ruangan Anton bekerja.